Thursday, 28 January 2016

Marmut Merah Jambu, Kisah Nyata Cinta pertama Raditya Dika

Marmut Merah Jambu, Kisah Nyata Cinta Pertama Raditya Dika
09 May 2014 19:20 WIB

FILM Marmut Merah Jambu yang diangkat dari kisah cinta pertama penulis Raditya Dika mendapat sambutan bagus dari penggemarnya. Tayang perdana pada 8 Mei 2014, film perdana besutan Raditya sukses menyedot 41.279 penonton pada hari itu. 

Kesuksesan film ini tentu tak terlepas dari sosok Raditya Dika, yang selama ini disukai remaja Indonesia lantaran gayanya yang kocak. Buku-bukunya juga laris manis di pasaran. 

Raditya punya alasan tersendiri mengapa mengangkat kisah cinta pertamanya ke layar lebar. 

"Gue mau ketika lampu bioskop dimatikan, orang yang nonton ingat cinta pertamanya. Setiap orang punya cinta waktu SMA yang tidak diungkap langsung ke orangnya," kata Raditya seperti dilansir metrotvnews.com, 9 Mei 2014. 

Lho, apa hubungannya dengan marmut? Film ini memang tidak berkisah tentang binatang imut itu, melainkan filosofinya. 

"Filosofinya, cinta pertama kayak marmut yang berlari di roda. Ngak kemana-mana dan tetap di situ-situ saja," kata Raditya. 

Di film ini, Dika bertindak sebagai penulis skenario sekaligus sutradara. Sedangkan yang bermain sebagai Raditya Dika diperankan oleh Cristoffer Nelwan.

Film ini dibuat dengan alur maju mundur. Dikisahkan, suatu hari Dika bertemu dengan ayah Ina, cewek cantik di sekolahnya yang pernah ditaksir Dika. 

Kepada ayah Ina, Dika pun bercerita tentang bagaimana usahanya untuk menarik perhatian Ina dengan membentuk grup detektif Tiga Sekawan. 

Adegan lalu masuk ke masa lalu, saat-saat mereka masih sekolah. Semasa SMA Dika adalah sosok yang pemalu. Saking pemalunya, ia tak berani mengungkapkan rasa cintanya pada Ina, siswi paling populer di sekolahnya yang bekerja sebagai penyiar radio. 

Dika lantas memutar otak untuk menarik perhatian Ina. Berkali-kali mencoba, ia gagal. Bersama dua rekannya yang kocak, mereka kemudian membentuk grup detektif Tiga Sekawan. 

Dika berhasil populer karena berhasil memecakan sejumlah kasus di sekolah seperti hilangnya bola basket guru olahraga hingga misteri surat ancaman ketua OSIS. Satu-satunya misteri yang tak terpecahkan adalah tulisan di sudut tembok sekolah bergambar marmut berwarna merah jambu. Gara-gara kasus ini pula persahabatan mereka sempat renggang. 

Sayangnya, kepopuleran itu belum juga mampu memikat Ina yang lebih tertarik pada cowok lain. 

Alur cerita lalu kembali ke masa kini, saat Dika bertemu ayah Ina. Itu terjadi sehari menjelang Ina menikah. Dika datang ke rumah Ina dengan membawa seribu origami burung bangau. Ayah Ina yang galak, luluh hatinya setelah mendengar betapa besarnya cinta terpendam Dika kepada anaknya. 

Ketika Dika selesai bercerita kepada ayah Ina, dia seolah tersadar, ada yang belum selesai dari masa lalunya. Saat dia berusaha memecahkannya, muncul pertanyaan: benarkah cinta pertama nggak kemana-mana? Petualangan Dika pun berlanjut, tetapi kali ini demi kisah cintanya.

Keberhasilan Dika menyutradarai serial Malam Minggu Miko ini tampaknya menjadi modal awal baginya untuk menyutradarai film ini. Terbukti, hari pertama saja film ini sudah menyedot 41.279 seperti dilansir filmindonesia.or.id.[] 

No comments:

Post a Comment